Teladan hidup Proklamator Mohammad Hatta kembali diangkat dalam Forum Praksis Seri ke-12 yang berlangsung di Jakarta, Jumat (29/8). Putri kedua Bung Hatta, Dr. Dra. Gemala Hatta MRA, menekankan bahwa di balik peran besar ayahnya dalam sejarah bangsa, ia adalah sosok pribadi yang sederhana, jujur, dan penuh disiplin, yang layak diteladani generasi sekarang.
Dalam diskusi bertajuk “Bung Hatta dalam Keseharian: Mewarisi Teladan Kesederhanaan dan Kepemimpinan Sang Proklamator”, Gemala mengingatkan bahwa Bung Hatta bukan hanya proklamator bersama Soekarno, tetapi juga tokoh dengan kontribusi besar bagi Republik.Ia memperkenalkan nama Indonesia di Eropa, menandatangani pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kelak menjadi TNI, serta mendirikan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 1955. Bung Hatta juga pernah menjabat Menteri Pertahanan dengan pangkat tituler Jenderal, sekaligus pencetus politik luar negeri bebas-aktif yang hingga kini menjadi prinsip diplomasi Indonesia.
Selain dikenal sebagai “Bapak Koperasi”, “Bapak Perumahan Rakyat”, “Bapak Kedaulatan Rakyat”, dan “Bapak Palang Merah Indonesia”, Bung Hatta juga merupakan pencetus ekonomi kerakyatan dalam UUD 1945 serta kebebasan berserikat dan berpendapat. Namun, bagi keluarganya, ia tetap seorang suami dan ayah yang penuh kesopanan.
“Bahkan kepada Ibu, Ayah selalu mengetuk pintu sebelum masuk kamar. Begitu juga saat masuk kamar anak-anak ketika kami sudah remaja,” kenang Gemala, yang pernah menjabat Regional Director IFHRO Asia Tenggara periode 2007–2010 dan 2019–2022. Ia menambahkan, ayahnya tidak pernah marah kepada Ibu Rahmi maupun anak-anak. “Dalam bertutur-kata, Ayah selalu lembut dan tenang.”
Gemala menuturkan, sikap santun itu berakar dari pendidikan Bung Hatta sejak kecil. Sejak usia lima tahun ia sudah rajin mengaji, belajar di sekolah berbahasa Belanda, les bahasa Inggris, hingga mempelajari bahasa Perancis dan Latin ketika pindah ke Padang. Dari Syech Djambek ia belajar membaca Al-Qur’an, tata ibadat, serta hukum Islam. Disiplin dan rasa ingin tahu juga membuatnya aktif dalam Sarikat Usaha dan Jong Sumatranen Bond. “Ketekunan dan kepedulian pada bangsanya terus dibawa hingga ia menempuh studi lanjut di Batavia dan Belanda,” kata Gemala.
Nilai kedisiplinan dan nasionalisme itu pula yang membuat Bung Hatta bertekad tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Menurut Gemala, keputusan itu mencerminkan sikap ayahnya yang mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Setelah menjabat maupun pensiun, Bung Hatta konsisten menolak penyalahgunaan uang negara. “Kalau ada uang dari negara yang bukan haknya, Ayah pasti menolak atau mengembalikannya,” ujar Gemala.
Integritas itu terbukti hingga akhir hayat. Saat meninggal pada 14 Maret 1980, saldo rekening Bung Hatta hanya sekitar Rp2,25 juta. “Tidak ada deposito, tidak ada obligasi, apalagi dolar. Tanah yang dimiliki hanya rumah tempat tinggal sejak sebelum merdeka dan satu vila di Megamendung yang dibeli saat masih bujangan,” kata Gemala.
Kesederhanaan Bung Hatta, lanjutnya, sesuai pesan kakeknya: “Harta di dunia tidak ada yang kekal. Yang kekal hanyalah ilmu, pengetahuan, dan ibadat.” Pesan ini, menurut Gemala, berlaku bukan hanya untuk Hatta, tetapi untuk bangsa Indonesia saat ini.
Dalam forum yang sama, putri bungsu Bung Hatta, Halida Hatta, juga berbagi kisah. Ia menekankan pemikiran ayahnya yang taktis dan strategis, salah satunya terlihat dalam proses penulisan naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. Menurut Halida, Bung Hatta selalu mengedepankan pertimbangan matang dan strategi demi kepentingan bangsa.
Forum Praksis menilai, nilai-nilai kesederhanaan, integritas, dan disiplin Bung Hatta semakin relevan di tengah tantangan bangsa hari ini. Figur Bung Hatta mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah soal kekuasaan dan harta, melainkan kesetiaan pada bangsa dan ketulusan pada rakyat.